Gempa Susulan Lombok Karena Aktivitas Sesar Naik Flores

Gempa Susulan Lombok Karena Aktivitas Sesar Naik Flores - Minggu (26/8) dini hari, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara barat diguncang minimal dua gempa bumi tektonik dengan kekuatan 5,6 dan 5,5 skala richter.


Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8,53 LS dan 116,93 BT, atau tepatnya bertempat di darat pada jarak 25 km arah unsur utara Kota Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, pada kedalaman 11 km.

"Dengan memerhatikan tempat episenter, kedalaman hiposenter dan mekanisme sumbernya, gempa bumi yang terjadi adalah jenis gempa bumi dangkal dampak aktivitas sesar naik Flores (Flores Back Arc Thrust)," demikian rilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang diterima, Minggu (26/8).

Berdasarkan hasil analisis mekanisme sumber, BMKG menulis dua gempa bumi itu dibangunkan deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar naik (Thrust Fault).

"Mengingat episenternya relatif sama dengan gempa bumi yang terjadi pada 19 agustus 2018 lalu, maka BMKG mengaku bahwa gempabumi ini adalah rangkaian gempabumi susulan yang terjadi sebelumnya," demikian lanjutan rilis tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun BMKG, akibat gempa bumi itu dialami masyarakat di Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Timur, Sumbawa, Mataram dengan skala guncangan III MMI, dan masyarakat di Kuta dan Denpasar (Bali) dengan skala II MMI. Hasil pemodelan mengindikasikan gempa bumi tidak berpotensi tsunami

Atas informasi tersebut, BMKG juga mengimbau supaya masyarakat tetap tenang dan tak terpengaruh isu yang mustahil dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Hoaks Gempa

Terkait peredaran hoaks soal gempa, laksana dikutip dari Antara, Suasana Sabtu malam di Kota Mataram yang seringkali ramai, seketika sepi.

Bagi sebagian penduduk Kota Mataram, keadaan sepi ini diduga dampak dampak kabar "hoaks" (berita bohong) bakal terjadi gempa susulan 7,5 SR pada Minggu (26/8).

"Mungkin sebab isu gempa itu, makanya sepi begini, memang seringkali ramai, namun tidak laksana malam biasanya," kata Mahmudin, salah seorang saudagar kaki lima yang sedang di Jalan Airlangga, Kota Mataram, Sabtu malam.

Dari monitoring Antara selama pukul 20.00 Wita, keadaan sepi dapat disaksikan dari volume kendaraan yang selesai lalang sepanjang ruas jalan utama perkotaan. Jalan Airlangga, Majapahit, dan Pejanggik yang seringkali di akhir pekan padat dengan kendaraan, terlihat lebih lengang.

Begitu pun dengan lokasi tongkrongan anak muda dan pusat perbelanjaan, tidak tidak sedikit pengunjung yang datang dan menguras akhir pekannya di sana. Bahkan tidak sedikit diantaranya tampak tutup lebih awal.

Seperti di antara kedai tongkrongan kesayangan anak muda yang terdapat di Jalan Majapahit, Kota Mataram. Tempat tongkrongan yang berada dekat dengan Kampus Universitas Mataram ini melulu terlihat satu meja yang diisi sekelompok muda-mudi.

Menyanggah hoaks, BMKG Stasiun Geofisika Mataram, pada 22 Agustus 2018, telah menerbitkan surat edaran sah yang menegaskan bahwa informasi gempa susulan dahsyat pada Minggu (26/8) itu tidak benar.

Atas dasar itu, BMKG meminta masyarakat guna tenang tetapi tetap waspada di segala kondisi. Begitu juga diinginkan untuk tidak meyakini berita-berita yang tersebar tanpa informasi yang jelas dari sumber terpercaya.

Melalui surat edarannya, dilafalkan setiap harinya gempa bumi tidak jarang kali terjadi di semua belahan dunia, tetapi tidak seluruh gempa bumi itu dirasakan. Bahkan sampai ketika ini, belum terdapat negara dengan teknologi apa juga di dunia yang dapat memprediksi kapan, di mana dan berapa kekuatan gempa bumi yang bakal terjadi secara tepat di hari dan tanggalnya.

Untuk menyanggah hoaks ini pun, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho pun menegaskan ketidakbenaran kabar gempa susulan 7,5 SR tersebut.

"Di Lombok masih tidak sedikit beredar hoaks atau informasi menyesatkan di sosial media. Isinya bahwa nanti malam pukul 22.30 WITA sampai 23.59 WITA diduga akan terjadi gempa susulan berkekuatan 7,5 SR dan diinginkan tidak sedang di dalam rumah," kata Sutopo dalam pengakuan tertulis.

Sutopo pun mengaku ketika ada bencana selalu tidak sedikit beredar hoaks sampai-sampai dia mengingatkan masyarakat guna selalu mengerjakan pengecekan dan tidak asal menyebarkan isu.

Menelusuri Dalang berhubungan kabar hoaks yang sudah sukses menghipnotis mayoritas warga Kota Mataram untuk perpindahan ke luar daerah, Polda NTB memungut peran dengan mencari jejak penyebarnya.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda NTB Kombes Pol Syamsuddin Baharuddin pada Jumat kemudian menegaskan pihaknya berkolaborasi dengan Mabes Polri sedang menginvestigasi identitas pelaku yang mengakibatkan kondisi ketenteraman dan ketertiban masyarakat jadi terganggu.

"Situs-situs penyebar berita bohong yang menciptakan kepanikan warga telah kita upayakan dengan menelusurinya. Tim Cyber Crime Polda NTB bareng Tim Cyber Crime Mabes Polri kini sedang bekerja," kata Syamsuddin.

Jika penyebarnya tertangkap, bakal ada sanksi yang lumayan berat. Pelaku dapat ditakut-takuti dengan Pasal 28 Ayat 1 Undang-Undang RI Nomor 11/2008 mengenai Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman enam tahun penjara dan denda maksimal Rp1 miliar.

"Kepolisian bakal menindak tegas siapa juga yang menciptakan dan menyebarkan informasi bohong," ujarnya.

Sekian artikel saya tentang Gempa Susulan Lombok Karena Aktivitas Sesar Naik Flores semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Gempa Susulan Lombok Karena Aktivitas Sesar Naik Flores"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel