Banyak Temukan Konten Terorisme, Kominfo Kembali akan Blokir Telegram

Banyak Temukan Konten Terorisme, Kominfo Kembali akan Blokir Telegram - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyinggung akan menutup Telegram lagi. Pasalnya penyakit lama Telegram pulang kumat.


Penyakit lama itu ialah penyebaran konten Terorisme. Rudiantara menuliskan konten-konten terorisme pulang marak di Telegram.

Rudiantara menuliskan terus mengerjakan koordinasi dengan Detasemen Khusus (Densus) 88 dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) guna menghadapi terorisme di media sosial.

"Telegram justeru masih digunakan terus oleh tanda kutip semua terafiliasi paling tidak dengan terorisme. Saya pun lagi beranggapan apa inginkan tutup lagi. Tahun kemudian Pavel Durov memang telah bersihkan konten terorisme, sekarang tidak sedikit lagi. Jadi kumat lagi," kata Rudiantara di area Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis malam (9/8).

Rudiantara pulang meminta software pesan instan besutan Durov bersaudara ini guna membuka akses untuk aparat ketenteraman untuk membasmi terorisme. Apabila akses dibuka, Rudiantara menuliskan tidak akan menutup Telegram.

"Saya bilang ke Telegram bila mereka kasih akses ke Densus 88 atau BNPT, saya tidak bakal blokir. Ini kan masalah terorisme masa anda diam saja. Kalau kamu tidak kasih akses ya saya tutup dulu," kata Rudiantara.

Rudiantara menuliskan pembukaan akses berhubungan konten terorisme di Telegram ini bakal sangat menolong aparat untuk membasmi Terorisme mulai dari bibitnya.

"Saya minta tolong lah Densus 88 dan BNPT berhubungan informasi pemakai Telegram dengan konten kegiatan terorisme. Sampai tadi senja belum terdapat akses," ujar Rudiantara.

Rudiantara menuliskan saat ini pihaknya terus mengerjakan berkomunikasi berhubungan konten terorisme. Ketika ditanya apakah Rudiantara bakal memanggil Durov bersaudara, ia melulu menjawab akan mengerjakan komunikasi terlebih dahulu.

"Lagi bicara sebab akses teknisnya kan bagaimana, telah sejauh mana. Yang urgen komunikasi dulu ya," ujar Rudiantara.

CEO Pavel Durov pernah datang ke Jakarta pada 1 Agustus 2017 kemudian untuk membicarakan teknis penanganan konten negatif, terutama berhubungan terorisme. Pada 14 Juli 2017, Kominfo memblokir 11 DNS Telegram sebab menemukan konten mempunyai sifat radikal dan terorisme dalam channel software chat tersebut.

Dalam pertemuan ini pemerintah setuju guna membuka blokir Telegram sesudah Pavel menyetujui sejumlah syarat yang diayunkan oleh Kominfo. Di antaranya ialah perwakilan eksklusif di Indonesia, peranti empuk untuk menyaring konten negatif, dan formalitas standar operasional saat masih ditemukan konten negatif.

Telegram begitu dinikmati oleh teroris untuk mengerjakan komunikasi. Pasalnya, Konten Telegram ini mempunyai enkripsi dengan keamanan modern sehingga kerahasiaan pembicaraan terjamin. Kapolri Jenderal Tito Karnavian bahkan mengakui bahwa Telegram susah untuk disadap. Sebut saja terdapat fitur pesan yang dapat 'hancur', seiring berjalannya masa-masa atau secret chat.

Kemudian Telegram pun mempunyai kapasitas kumpulan pesan (group message) yang memungkinkan menggandeng sekaligus 10.000 orang.

Sekian artikel saya tentang Banyak Temukan Konten Terorisme, Kominfo Kembali akan Blokir Telegram semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Banyak Temukan Konten Terorisme, Kominfo Kembali akan Blokir Telegram"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel